Peningkatan Mutu Pendidikan Diawali dari Seleksi Calon Guru

Kebijakan pemerintah untuk serius menyeleksi calon guru secara ketat seolah menjawab kegundahan buku berjudul Pendidikan Manusia Indonesia (Penerbit Buku Kompas, 2004). Buku yang disunting oleh Tonny D. Widiastono tersebut menyatakan sejumlah poin terkait permasalahan pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah guru dibentuk dari generasi lapis kedua. Artinya, mahasiswa yang memiliki kecerdasan yang tinggi lebih memilih menjadi dokter atau profesi lain daripada guru. Oleh karena itu, sedikit demi sedikit pemerintah mulai menyempurnakan desain perekrutan calon guru (melalui seleksi PNS) yang kredibel sehingga menjadi terobosan baru untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Terobosan baru pemerintah dalam sistem rekrutmen PNS guru tersebut sangat laik dilaksanakan. Sebab, terobosan tersebut tergolong upaya pembenahan yang paling mendasar. Hal ini mengingat bahwa pembenahan pendidikan memang tidak hanya sebatas pada sistem pembelajaran atau kurikulumnya saja melainkan juga dari guru itu sendiri. Oleh sebab itu, dukungan dari semua pihak, baik itu pencetus gagasan, pelaksana, masyarakat, dan tak terkecuali adalah media massa perlu diupayakan.

WIN_20161018_21_56_07_Pro

Tentu saja terdapat keunggulan yang nyata dari calon guru yang melakukan pengabdian di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal adalah (3T) dibandingkan dengan yang tidak pernah ikut. Semangat nasionalisme adalah yang paling utama. Dengan adanya program tersebut, calon guru akan melihat dan merasakan secara langsung keterbatasan di wilayah-wilayah yang tertinggal. Efek lainnya tentu saja masih banyak, misalnya guru akan belajar memanfaatkan media yang ada dan menyadari bahwa pembelajaran tidak harus dengan barang yang mahal atau teknologi yang canggih.

Sejalan dengan hal tersebut, laman dikti.go.id menyatakan bahwa Program Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM-3T) merupakan Program Pengabdian Sarjana Pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) selama satu tahun. Dengan adanya program ini, sekolah-sekolah di daerah 3T yang kekurangan guru akan mendapatkan tambahan tenaga pendidik yang cukup dan cakap.

        Program ini diyakini akan mampu membawa kemajuan pendidikan di Indonesia. Hal ini didasarkan atas sejumlah alasan. Pertama, calon guru telah dididik mentalnya sehingga kelak akan menularkan semangat itu ke setiap muridnya. Kedua, ketika di daerah yang minus seorang calon guru bisa memanfaatkan berbagai media, hal tersebut akan membuat mereka menjadi lebih kreatif. Guru kreatif akan sangat diperlukan dalam pendidikan kita saat ini.

WIN_20160823_00_54_17_Pro

Sistem ini ibarat sebuah mesin. Mesin diciptakan karena sebuah konsep, untuk menjaga mesin itu bisa berjalan dengan baik tanpa masalah, maka harus dilakukan perawatan alias maintenance. Pemerintah punya peran penting dalam hal ini. Salah satunya adalah membentuk badan penelitian dan pengembangan yang bertugas mengawasi jalannya sistem itu. Jadi untuk menjawab program ini harus dihentikan atau tidak, efisien atau tidak, perlu data akurat.  Dan itu bisa dilakukan dengan penelitian oleh litbang.

Itulah harapan baru untuk pendidikan yang lebih maju, dan itu diawali dari bagaimana memilih seorang calon guru.

 

 

Ari Wijayanti, S.Pd

Guru SMPN 2 Kandat, Kediri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: