Hari yang Terlupakan

Hari yang Terlupakan

Sebulan yang lalu, baru saja kita peringati Hari Kartini. Di bulan ini, kita juga baru saja memperingati Hari Pendidikan Nasional. Hari ini, tepatnya tanggal17 Mei, kita juga sedang memperingati dengan semangat yang (semoga) masih sama: Hari Buku Nasional.

Sayangnya, peringatan Hari Buku Nasional tahun lalu tidak segaung dengan peringatan hari-hari lainnya. Apakah ini bisa menjadi indikasi bahwa masyarakat kita memang tidak begitu tertarik dengan buku apalagi membacanya?
World Culture Score Index yang mengukur lama waktu untuk membaca buku mengungkapkan rata-rata orang Indonesia hanya menghabiskan 6 jam per minggu untuk membaca buku. Padahal angka melek huruf Indonesia mencapai 93% yang sangat jauh dibandingkan dengan India yang hanya 65%, tetapi India rata-rata menghabiskan 10 jam seminggu untuk membaca buku (Kompas, 14 Juni 2015). Apakah ini juga ada korelasinya dengan perfilman India yang semakin gencar muncul di stasiun televisi swasta di tanah air kita?
Padahal kalau kita mau menengok para pendiri bangsa ini, kesemuanya memiliki kecintaan yang sama: cinta buku dan gemar membaca. Namun sayangnya, budaya itu tidak terwariskan dengan sempurna. Umpama estafet, budaya itu adalah tongkat yang tidak sampai ke  generasi berikutnya. Oleh karena itu, peringatan Hari Buku Nasional seyogianya dimaknai sebagai sebuah momentum untuk menyambung lagi estafet budaya membaca yang terputus itu.
Generasi yang cinta terhadap buku serta gemar membacanya memang tidak bisa jauh dari peranan orang tua. Masih sedikit orang tua yang membekali rumahnya dengan perpustakaan keluarga sehingga minat baca anak-anaknya menjadi meningkat. Orang tua menjadi bangga ketika anaknya lihai mengoperasikan gawai daripada membuka-buka lembaran buku yang penuh gambar dan warna.
Kita bisa menebak apa yang bakal terjadi apabila orang tua selaku role mode bagi anak lebih banyak menghabiskan pandangannya di televisi (menonton film India?) atau ponsel mereka. Kitapun bisa mengoreksi diri, apakah sebagai orang tua kita sudah membiasakan anak-anak ke toko buku?
Ketika orang tua tidak bisa menjadi tumpuan harapan, maka instansi pendidikan menjadi harapan kita selanjutnya. Instansi pendidikan harus mampu menanamkan kecintaan membaca para peserta didiknya. Pendidik tidak hanya sekadar menjadi inspirasi peserta didiknya untuk gemar membaca tetapi juga harus menjadi teladan. Namun lagi-lagi kendala yang terjadi adalah banyak pendidik yang tidak suka membaca. Bahkan, jika pemerintah mau mengadakan survai kepada pendidik, yang telah mendapatkan tunjangan sertifikasi, pemerintah akan mendapatkan data yang cukup mengejutkan bahwa sangat sedikit guru yang mengalokasikan tunjangan sertifikasi untuk membeli buku (belum termasuk membacanya).
Perpustakaan di sekolah-sekolahpun terkadang hanya berisi buku-buku yang tidak menarik peserta didik. Padahal menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakan Pasal 23 ayat 6 dijelaskan bahwa sekolah/madrasah mengalokasikan dana paling sedikit 5% dari anggaran belanja operasional atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan.
Peranan masyarakat tidak bisa kita tinggalkan. Perlu kita dukung ketika di daerah-daerah sudah muncul perpustakaan swadaya masyarakat. Apabila di setiap desa memiliki perpustakaan, tentunya akan mampu mengenalkan budaya membaca kepada anak-anak dan masyarakat sekitar sehingga akan mendukung pengetahuan yang kelak akan mampu memberikan sumbangan pemikiran terhadap pembangunan daerah.


Berbicara mengenai buku tentu tidak terlepas dari penulisnya. Di Indonesia sendiri sistem royalti masih sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Sistem pembayaran yang hanya berkisar 10-20% terkadang tidak cukup untuk biaya riset penulis. Hal yang menyedihkan lagi bagi penulis adalah laporan keuangan penjualan buku yang harus dihadang oleh pajak. Belum lagi masalah teknis apabila naskah yang dikirim penulis menggantung tanpa kabar dan kepastian dari penerbit. Penulis pun harus berkali-kali merogoh tabungannya untuk mengurusi masalah teknis seperti biaya telpon ataupun biaya paket data internet.
Terlepas dari itu semua, setiap elemen memiliki peran yang penting dalam meningkatkan kecintaan generasi penerus bangsa terhadap buku dan kegemaran akan membaca. Ada kelebihan dan kelemahan. Pemerintah harus mampu menemukan rumus yang tepat untuk menambal sulam kekurangan dari semua elemen itu serta mensinergikannya menjadi satu kesatuan yang holistik.
Pada akhirnya, tanggal 17 Mei ini, semoga tidak menjadi hari yang terlupakan dan tidak sekadar peringatan saja. Lebih dari itu, Hari Buku Nasional seyogianya bisa menjadi sebuah momentum untuk mulai berinvestasi pengetahuan ke generasi penerus bangsa melalui membaca. Sebab, tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan sebuah bangsa, bikin saja orang-orangnya berhenti membaca. Bukankah begitu Pak Ray Bradbury?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: