Rahasia Bukumu Ada di Toko Buku di Seluruh Indonesia: Terjual lebih dari 10.000 eksemplar dan Selalu Diterima Penerbit Nasional

Di dunia digital semacam ini, seharusnya menerbitkan buku itu mudah. Memiliki buku ber-ISBN itu mudah, yang susah adalah membuatnya terjual lebih dari 10.000 eksemplar.

Menurut pengamatan sederhana kami (bukan penelitian yang melibatkan metodologi), kami menemukan sangat sedikit generasi X (mereka yang lahir tahun 1965-1979)yang bertahan sebagai penulis. Penulis-penulis yang karyanya hadir di rak toko buku biasanya dikuasai oleh generasi Y (mereka yang lahir sekitar1980-1999).

Kita persempit lagi, dari guru dan dosen jumlahnya semakin runcing tajam dan nyaris tak terlihat. Kalaupun ada guru atau dosen yang menulis, rata-rata mereka menggunakan penerbit swaterbit. Penerbit swaterbit adalah sejumlah biaya seperti percetakan, biaya desain, dan ISBN ditanggung penerbit. Meskipun setiap penerbit memiliki kebijakan yang berbeda. Tapi sisi baiknya (mungkin karena ada kaitannya dengan kenaikan pangkat) banyak guru dan dosen yang sekarang menulis dengan sistem swaterbit ini. Hal ini terbukti dari data pengajuan ISBN ke https://www.perpusnas.go.id/ yang sangat membludak. Perhari, perpusnas membatasi hanya 500 pengajuan judul. Portal dibuka pukul 09.00 dan satu jam berikutnya Anda sudah disuruh antri lagi besoknya.

Kembali lagi, apa yang membuat generasi milenial mampu menguasai hampir sebagian besar penerbit-penerbit nasional? Jawaban klasiknya karena mereka mengetahui dunia sekarang bergerak ke arah mana dan generasi di atasnya masih “berbangga-bangga” dengan masa lalunya. Ada pergerakan “selera” konsumen pembaca saat ini. Dari jenis penyajiannya pun sudah beda. Sebuah buku bisa disajikan seperti sedang membuka beranda Instagram: banyak ilustrasi sedikit caption (tapi mengena). Inilah yang disenangi pasar saat ini.

Nah, kita sebagai generasi kolonial (jika kita bukan lagi milenial) sebenarnya masih ada cara untuk mengetahui karakter pasar yang akan mengantarkan karya kita nongkrong di rak toko buku di seluruh Indonesia. Tapi, jika Anda sudah merasa di zona nyaman dengan gaji pegawai negeri dan swaterbit adalah pilihan hidup Anda, abaikan tulisan ini.

Tulisan ini akan menawarkan sudut pandang pentingnya data. Kami sudah menguji coba di sejumlah lini massa dan, tentu saja, membuktikannya. Meskipun, cara ini bukan satu-satunya cara, Anda bisa memanfaatkannya untuk uji coba.

Kenali Pasar

Pertanyaan sederhananya, bagaimana cara kita mengenali pasar? Manfaatkan poling. Anda pengguna Instagram? Beralihlah ke Instagram bisnis (sejauh ini sih gratis). Coba aja cari di Google cara memindah akun Instagram ke bisnis. Lalu manfaatkan algoritma sederhananya. Di menu insight  Anda akan menemukan siapa saja pengikut Anda, di rentang usia berapa, postingan apa yang paling banyak dilihat, dsb. Itu akan membantu Anda menemukan pasar. Jika Anda mau, buat aja poling: Buku apa sih yang ingin kalian baca? Lalu, bandingkan dengan sebaran usia follower Anda.

Cara lainnya, buatlah blog dengan menggunakan wordpress. Anda akan diberi statistik yang lebih keren. Anda akan diberi tahu kemana arah auidens Anda. Saya menemukan data yang cukup siginifikan. Misalnya buku yang dibutuhkan pembaca dari rentang usia 20 hingga 40 adalah sebagai berikut. Sebanyak 27% mereka membutuhkan buku bertema Pendidikan atau parenting. Buku motivasi sebanyak 23%. Novel romantis sebanyak 22%. Novel fiksi ilmiah 17%. Dan, lain-lain, sebanyak 3%.

Intinya, apapun media sosial Anda, manfaatkan algoritma gratisnya. Termasuk dengan ini kami menemukan sejumlah perilaku seks bebas yang dilakukan remaja. Hasil poling tertinggi menunjukkan: mereka melakukan seks pertama kali saat SMP, bersama pacar, dan di rumah (saat ortu tidak ada).

Penggunaan data tidak hanya untuk menulis tetapi juga untuk menentukan kebijakan dan cara kami menghadapi peserta didik kami yang saat ini sudah masuk ke generasi A (kapan-kapan kita bahas mengenai mereka).

Namun demikian, kami memiliki prinsip menulis yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Pramodya Ananta Toer. Beliau menyampaikan menulis untuk hidup abadi. Bagi kami, kami menulis bukan untuk dikenang oleh sejarah atau ingin hidup abadi, kami menulis karena dalam hidup ini kami menemukan banyak hal untuk dibagi.

Cara menembus Media Massa

Trik menulis

#menulis #penerbit #menerbitkanbuku #buku

3 Komentar »

  1. […] algoritma. Anda bisa KLIK DI SINI untuk mengetahui lebih detail mengenai pasar atau segmen […]

  2. […] KLIK DI SINI UNTUK MENGETAHUI AGAR BUKUMU LAKU 10.000 EKSEMPLAR […]

  3. […] Strategi Agar Bukumu laku Lebih dari 10.000 eksemplar […]


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: