KEGIATAN SATU

Coba kamu baca cerpen berjudul “Perihal Orang Miskin yang Bahagia” berikut ini dan lakukan hal-hal berikut ini.

  1. Temukan kutipan/qoutes yang menurutmu keren. Apa sih kutipan itu, kiytipan itu adalah kata-kata yang tersusun membentuk sebuah opini yang keren. Biasanya sih pendek-pendek. Contoh:

Adalah hak setiap orang untuk jatuh cinta, tapi tak setiap orang berhak memiliki. [Novel Awanama]

2. Posting di instagram/fb/twitter. Akan sangat bagus jika kamu beri gambar ya. Ohya, jangan lupa tag @pemeral.edukreatif ya. Lalu di caption beri tagar #tugasbinaxii untuk mempermudah kami dalam menelusuri tugas kamu. Kami beri nilai tambah untuk peserta yang memposting ini. Tapi ini tidak wajib. Jika kamu tidak memiliki medsos, tidak apa-apa cukup pasang di story Whatsappmu aja dan beri tahu saya. Jangan lupa tetap mencantumkan tagar #tugasbinaxii

3. Benar-benar dipahami ya cerpen di bawah ini. Nanti selama satu minggu, akan ada WA di grup secara acak untuk saya tanyakan. Jika kamu mampu menajwab pertanyaan saya, kamu dapat nilai tambah yang cukup banyak. Kamu bisa cek di sini untuk mengecek perkembangan nilai kamu.

Oke, siap…kamu baca cerpen berikut ya.

Perihal Orang Miskin yang Bahagia

Cerpen Agus Noor

1.

“AKU sudah resmi jadi orang miskin,” katanya, sambil memperlihatkan Kartu Tanda Miskin, yang baru diperolehnya dari kelurahan. “Lega rasanya, karena setelah bertahun-tahun hidup miskin, akhirnya mendapat pengakuan juga.” Kartu Tanda Miskin itu masih bersih, licin, dan mengkilat karena dilaminating. Dengan perasaan bahagia ia menyimpan kartu itu di dom petnya yang lecek dan kosong.

“Nanti, bila aku pingin berbelanja, aku tinggal menggeseknya.”

2.

Diam-diam aku suka mengintip rumah orang mis kin itu. Ia sering duduk melamun, sementara anak-anaknya yang dekil bermain riang me nahan lapar. “Kelak, mereka pasti akan men jadi orang miskin yang baik dan sukses,” gumamnya.

Suatu sore, aku melihat orang miskin itu me nik mati teh pahit bersama istrinya. Kudengar orang miskin itu berkata mesra, “Ceritakan ki sah paling lucu dalam hidup kita….”

“Ialah ketika aku dan anak-anak begitu kelaparan, lalu menyembelihmu,” jawab istrinya.

Mereka pun tertawa.

Aku selalu iri menyaksikan kebahagiaan mereka.

3.

Orang miskin itu dikenal ulet. Ia mau bekerja serabutan apa saja. Jadi tukang becak, kuli angkut, buruh bangunan, pemulung, tukang parkir. Pendeknya, siang malam ia membanting tulang, tapi alhamdulillah tetap miskin juga. “Barangkali aku memang turun-temurun dikutuk jadi orang miskin,”ujarnya, tiap kali ingat ayahnya yang miskin, kakeknya yang miskin, juga si mbah buyutnya yang miskin.

Ia pernah mendatangi dukun, berharap bisa mengubah garis buruk tangannya. “Kamu memang punya bakat jadi orang miskin,” kata dukun itu. “Mestinya kamu bersyukur, karena tidak setiap orang punya bakat miskin seperti kamu.” Kudengar, sejak itulah, orang miskin itu berusaha konsisten miskin.

4.

Pernah, dengan malu-malu, ia berbisik pada ku. “Kadang bosan juga aku jadi orang miskin. Aku pernah berniat memelihara tuyul atau babi ngepet. Aku pernah juga hendak jadi pelawak, agar sukses dan kaya,” katanya. “Kamu tahu kan, tak perlu lucu jadi pelawak. Cukup bermodal tampang bego dan mau dihina-hina.”

“Lalu kenapa kau tak jadi pelawak saja?”

Ia mendadak terlihat sedih, lalu bercerita, “Aku kenal orang miskin yang jadi pelawak. Ber tahun-tahun ia jadi pelawak, tapi tak pernah ada yang tersenyum menyaksikannnya di panggung. Baru ketika ia mati, semua orang tertawa.”

5.

Orang miskin itu pernah kerja jadi badut. Kos tumnya rombeng, dan menyedihkan. Setiap meng hibur di acara ulang tahun, anak-anak yang menyaksikan atraksinya selalu menangis ketakutan.

“Barangkali kemiskinan memang bukan hi buran yang menyenangkan buat anakanak,” ujarnya membela diri, ketika akhirnya ia dipecat jadi badut.

Kadang-kadang, ketika merasa sedih dan la par, orang miskin itu suka mengibur diri di depan kaca dengan gerakan-gerakan badut paling lucu yang tak pernah bisa membuatnya tertawa.

6.

Orang miskin itu akrab sekali dengan lapar. Se tiap kali lapar berkunjung, orang miskin itu selalu mengajaknya berkelakar untuk sekadar me lupakan penderitaan. Atau, seringkali, orang mis kin itu mengajak lapar bermain teka-teki, untu k menghibur diri. Ada satu teka-teki yang selalu diulang-ulang setiap kali lapar da tang ber tandang.

“Hiburan apa yang paling menyenangkan ketika lapar?” Dan orang miskin itu 

akan menja wabnya sendiri, “Musik keroncongan.”

Dan lapar akan terpingkal-pingkal, sambil menggelitiki perutnya.

7.

Yang menyenangkan, orang miskin itu memang suka melucu. Ia kerap menceritakan kisah orang miskin yang sukses, kepadaku. “Aku punya kolega orang miskin yang aku kagumi,” katanya. “Dia merintis karier jadi pengemis untuk membesarkan empat anaknya. Sekarang satu anaknya di ITB, satu di UI, satu di UGM, dan satunya lagi di Undip.” “Wah, hebat banget!” ujarku. “Semua kuliah, ya?” “Tidak. Semua jadi pengemis di kampus itu.”

8.

Orang miskin itu sendiri punya tiga anak yang ma sih kecil-kecil. Paling tua berumur 8 tahun, dan bungsunya belum genap 6 tahun. “Aku ingin mereka juga menjadi orang miskin yang baik dan benar sesuai ketentuan undang-undang. Setidaknya bisa mengamalkan kemiskinan mereka se cara adil dan beradab berdasarkan Pan casila dan UUD 45,” begitu ia sering berkata, yang kedengaran seperti bercanda. “Itulah sebabnya aku tak ingin mereka jadi pengemis!” Tapi, seringkali kuperhatikan ia begitu bahagia, ketika anak-anaknya memberinya recehan. Hasil dari mengemis.

9.

Pernah suatu malam kami nongkrong di wa rung pinggir kali. Bila lagi punya uang hasil anak-anaknya mengemis, ia memang suka memanjakan diri menikmati kopi.  “Orang miskin per lu juga sesekali nyantai, kan? Lagi pula, be gitulah nikmatnya jadi orang miskin. Punya ba nyak waktu buat leha-leha. Makanya, sekali-kali, cobalah jadi orang miskin,” ujarnya, sam bil menepuk-nepuk pundakku. “Kalau kamu miskin, kamu akan punya cukup tabungan pen deritaan, yang bisa digunakan  untuk membia yaimu sepanjang hidup. Kamu bakalan punya cadangan kesedihan yang melimpah. Jadi kamu nggak kaget kalau susah.” Kemudian pelan-pe lan ia menyeruput kopinya penuh kenikmatan.

Saat-saat seperti itulah, diam-diam, aku suka mengamati wajahnya.

10.

Wajah orang miskin itu mengingatkanku pada wajah yang selalu muncul setiap kali aku berkaca. Dalam cermin itu kadang ia menggodaku dengan gaya badut paling lucu yang tak pernah membuatku tertawa. Bahkan, setiap kali ia meniru gerakanku, aku selalu pura-pura tak melihatnya.

Pernah, suatu malam, aku melihat bayangan orang miskin itu keluar dari dalam cermin, ber jalan mondar-mandir, batuk-batuk kecil minta diperhatikan. Ketika aku terus diam saja, kulihat ia kembali masuk dengan wajah kecewa.

Sejak itu, bila aku berkaca, aku kerap melihat nya tengah berusaha menyembunyikan isak ta ngisnya.

11.

Ada saat-saat di mana kuperhatikan wajah orang miskin itu diliputi kesedihan. “Jangan sa lah paham,” katanya. “Aku sedih bukan ka rena aku miskin. Aku sedih karena banyak se kali orang yang malu mengakui miskin. Banyak sekali orang bertambah miskin karena selalu berusaha agar tidak tampak miskin.” Entah kenapa, saat itu mendadak aku merasa ki kuk dengan penampilanku yang perlente. Se jak itu pula aku jadi tak terlalu suka berkaca.

12.

Bila lagi sedih orang miskin itu suka datang ke pengajian. Tuhan memang bisa menjadi hiburan menyenangkan buat orang yang lagi kesusahan, katanya. Ia akan terkantuk-kantuk sepanjang ceramah, tapi langsung semangat begitu makanan dibagikan.

13.

Ada lagi satu cerita, yang suka diulangnya padaku:

Suatu malam ada seorang pencuri menyatroni rumah orang miskin. Mengetahui hal itu, si miskin segera sembunyi. Tapi pencuri itu memergoki dan membentaknya, “Kenapa kamu sembunyi?” Dengan ketakutan si orang miskin menjawab, “Aku malu, karena aku tak punya apa pun yang bisa kamu curi.”

Ia mendengar kisah itu dalam sebuah pengajian. “Kisah itu selalu membuatku punya alasan untuk bahagia jadi orang miskin,” begitu ia selalu mengakhiri cerita. 14.

Orang miskin itu pernah ditangkap polisi. Saat itu, di kampung memang terjadi beberapa kali pencurian, dan sudah sepatutnyalah orang miskin itu dicurigai. Ia diinterogasi dan digebugi. Dua hari kemudian baru dibebaskan. Kabarnya ia diberi uang agar tak menuntut. Berminggu-minggu wajahnya bonyok dan memar. “Begitulah enaknya jadi orang miskin,” katanya. “Di tu duh mencuri, dipukuli, dan dikasih duit!”

Sejak itu, setiap kali ada yang kecurian, orang miskin itu selalu mengakui kalau ia pelakunya. De ngan harapan ia kembali dipukuli.

15.

Banyak orang berkerumun sore itu. “Ada yang mati,” kata seseorang. Kukira orang miskin itu te was dipukuli. Ternyata bukan. “Itu perempuan yang kemarin baru melahirkan.

[…]

16.

[…]

“Tak gampang memang jadi orang miskin,” ujar orang miskin itu. “Hanya orang miskin ga dungan yang mau mati bunuh diri. Untunglah, sekarang saya sudah resmi jadi orang miskin,” ujarnya sembari menepuk-nepuk dompet di pantat teposnya, di mana Kartu Tanda Miskin itu dirawatnya. “Ini bukti kalau aku orang miskin sejati.”

17.

Orang miskin punya ponsel itu biasa. Hanya orang-orang miskin yang ketinggalan zaman sa ja yang tak mau berponsel. Tapi aku tetap sa ja kaget ketika orang miskin itu muncul di ru mahku sambil menenteng telepon genggam.

“Orang yang sudah resmi miskin seperti aku, boleh dong bergaya!” katanya dengan gagah. Lalu ia sibuk memencet-mencet ponselnya, menelepon ke sana kemari dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan, “Ya, hallo, apa kabar? Bagaimana bisnis kita? Halooo….”

Padahal ponsel itu tak ada pulsanya.

18.

Ia juga punya kartu nama sekarang. Di kartu na ma itu bertengger dengan gagah namanya, tem pat tinggal, dan jabatannya: Orang Miskin.

19.

Ia memang jadi kelihatan keren sebagai orang mis kin. Ia suka keliling kampung, menenteng pon sel, sambil bersiul entah lagu apa. “Sekarang anak-anakku tak perlu lagi repot-repot mengemis dengan tampang dimelas-melaskan,” ka           tanya. “Buat apa? Toh sekarang kami sudah nya man jadi orang miskin. Tak sembarang orang bisa punya Kartu Tanda Miskin seperti ini.”

Ia mengajakku merayakan peresmian kemiskinannya. Dibawanya aku ke warung yang biasa dihutanginya. Semangkuk soto, ayam goreng, sam bal terasi dan nasi—yang tambah sampai tiga kali—disantapnya dengan lahap. Sementa ra aku hanya memandanginya.

“Terima kasih telah mau merayakan kemiskinanku,” katanya. “Karena aku telah benar-benar resmi jadi orang miskin, sudah sepantasnya kalau kamu yang membayar semuanya.” Sambil bersiul ia segera pergi.

20.

Ketika tubuhnya digerogoti penyakit, dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit. Ia menyerahkan Kartu Tanda Miskin pada suster jaga. Karena banyak bangsal kosong, suster itu menyuruhnya menunggu di lorong. “Begitulah enaknya jadi orang miskin,” batinnya, “dapat fasilitas gratis tidur di lantai.” Dan orang miskin itu dibiarkan menunggu berhari-hari.

Setelah tanpa pernah diperiksa dokter, ia disuruh pulang. “Anda sudah sumbuh,” kata pe rawat, lalu memberinya obat murahan.

Orang miskin itu pulang dengan riang. Kini tak akan pernah lagi takut pada sakit. Saat anak-anaknya tak pernah sakit, ia jadi kecewa. “Apa gunanya kita punya Kartu Tanda Miskin kalau kamu tak pernah sakit? Tak baik orang miskin selalu sehat.” Mendengar itu, mata istrinya berkaca-kaca.

21.

Beruntung sekali orang miskin itu punya istri yang tabah, kata orang-orang. Kalau tidak, perempuan itu pasti sudah lama bunuh diri. Atau memilih jadi pelacur ketimbang terus hidup dengan orang miskin seperti itu.

Tak ada yang tahu, diam-diam perempuan itu sering menyelinap masuk ke rumahku. Sekadar untuk uang lima ribu.

22.

Suatu sore yang cerah, aku melihat orang mis kin itu mengajak anak istrinya pergi berbelanja ke mal. Benar-benar keluarga miskin yang sa kinah, batinku. Ia memborong apa saja sebanyak-banyaknya. Anak-anaknya terlihat begitu gembira.

“Akhirnya kita juga bisa seperti mereka,” bi sik orang miskin itu pada istrinya, sambil me nunjuk orang-orang yang sedang antre memba yar dengan kartu kredit.

Di kasir, orang mis kin itu pun segera mengeluarkan Kartu Tan da Miskin miliknya, “Ini kartu kredit saya.”

Tentu saja, petugas keamanan langsung mengusirnya.

23.

Ia tenang anak-anaknya tak bisa sekolah. “Buat apa mereka sekolah? Entar malah jadi kaya,” katanya. “Kalau mereka tetap miskin, malah banyak gunanya, kan? Biar ada yang terus berdesak-desakan dan saling injak setiap kali ada pembagian beras dan sumbangan. Biar ada yang terus bisa ditipu setiap menjelang pemilu. Kau tahu, itulah sebabnya, kenapa di negeri ini orang miskin terus dikembangbiakkan dan dibudidayakan.”

Aku diam mendengar omongan itu. Uang dalam amplop yang tadinya mau aku berikan, pelan-pelan kuselipkan kembali ke dalam saku.

24.

Takdir memang selalu punya cara yang tak terduga agar selalu tampak mengejutkan. Tanpa firasat apa-apa, orang miskin itu mendadak mati. Anakanaknya hanya bengong memandangi mayatnya yang terbujur menyedihkan di ranjang. Sementara istrinya terus menangis, bukan karena sedih, tapi karena bingung mesti beli kain kafan, nisan, sampai harus bayar lunas kuburan.

Seharian perempuan itu pontang-panting cari utangan, tetapi tetap saja uangnya tak cukup buat biaya pemakaman. “Bagaimana, mau dikubur tidak?” Para pelayat yang sudah lama menunggu mulai menggerutu.

Karena merasa hanya bikin susah dan merepotkan, maka orang miskin itu pun memutuskan untuk hidup kembali.

25.

Sejak peristiwa itu, kuperhatikan, ia jadi sering murung. Mungkin karena banyak orang yang kini selalu mengolok-oloknya.

[…]

Orang-orang pun tertawa ngakak.

26.

Nasib buruk kadang memang kurang ajar. Suatu hari, orang miskin itu berubah jadi anjing. Itulah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Anak istrinya yang kelaparan segera menyembelihnya. (*)

 Jakarta-Singapura, 2009 (Jawa Pos, 31 Januari 2010)

58 Komentar »

  1. […] PERTEMUAN PERTAMA […]

  2. Adinda Melani Putri 12 Akl 1 Said:

    Adinda Melani Putri -01/XII AKL 1
    Yang bisa diambil dari cerita tersebut menurut saya adalah:
    1.Jangan menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk berdiam diri tidak berusaha
    2.Kartu Tanda Miskin bukan sebuah prestasi, jadi bukan hal yang bisa dibanggakan
    3.Meskipun hidup miskin itu bukan penghalang untuk seseorang tidak bisa bahagia

  3. Erilia Dwiki Erwita Said:

    Erilia Dwiki Erwita
    (08/XII AKL 1)

  4. Isna Zulianti Said:

    Isna Zulianti – 12 / XII AKL 1

    • Soni Galang Aditia Sayogo Said:

      Soni Galang aditia sayogo
      32/ XII TKRO 2

  5. Ashilla Agistha Putri 4 Said:

    Ashilla Agistha Putri – XII AKL 1/04

  6. Lenny Efridah Hasibuan Said:

    Lenny Efridah Hasibuan
    17/XII AKL 1

  7. Gita Rahmadanti Said:

    Gita Rahmadanti
    11/XII AKL 1

  8. Lailatun Nashih Said:

    Lailatun Nashih
    (16/XII AKL 1)

  9. Rosita Nur Diani Said:

    Rosita Nur Diani
    26/12AKL 1

  10. Anonim Said:

    Dini Surya Andari
    07/ XII AKL 1

  11. Nadila Fitriana Said:

    Nadila Fitriana
    (20/XII AKL 1)

  12. Nadila Fitriana Said:

    Nadila Fitriana
    (20/XII AKL 1)

  13. Alya Aminatul Husna Said:

    Alya Aminatul Husna
    (02/12 Akuntansi 1)

  14. Nurul Laili Said:

    Nurul Laili
    23 – XII AKL 1

  15. Anonim Said:

    Tri Lestari XII AKL 1/30

  16. Tri Lestari Said:

    Tri Lestari XII AKL 1/30

  17. Anonim Said:

    Maria Efendi

  18. Anonim Said:

    Maria Efend
    XII AKL 1/18

  19. Anonim Said:

    Nur Siska – 22 / XII AKL 1

  20. Anonim Said:

    Nur Siska
    22 / XII AKL 1

  21. Melinda Cristinawati Said:

    Melinda Cristinawati -19/XII AKL 1

  22. Resti Apriliana Said:

    Nama : Resti Apriliana
    No. Abs: 25
    Kelas : 12 AKL 1

  23. Amelia Riyanti Putri Said:

    Amelia Riyanti Putri/XII AKL 1/03

  24. Devy Chairunnissa Tetriana Said:

    Devy Chairunnissa Tetriana
    XII AKL 1/ 06

  25. MELIN YAMA SHINTA Said:

    PERIHAL ORANG MISKIN YANG BAHAGIA adalah cerpen karya Agus Noor. Cerpen ini mengangkat tema kehidupan ekonomi. Adapun amanat atau ajaran moral yang hendak disampaikan Agus Noor selaku pengarang kepada pembacanya adalah sebagai berikut:

    ● Tidak menjadikan ‘jaminan kemiskinan’ sebagai alasan untuk berdiam diri tak berusaha.
    ● Kartu Tanda Miskin bukan sebuah pencapaian melainkan, jadi bukan hal yang bisa dibanggakan apalagi disalahgunakan.
    ● Meskipun seseorang miskin bukan berarti seseorang tidak bisa bahagia. Ini diperlihatkan penulis saat menceritakan anak si orang miskin yang bermain riang meski kelaparan. Atau humor yang terjadi antara orang miskin dan istrinya.

  26. MELIN YAMA SHINTA/X AKL 3/18 Said:

    PERIHAL ORANG MISKIN YANG BAHAGIA adalah cerpen karya Agus Noor. Cerpen ini mengangkat tema kehidupan ekonomi. Adapun amanat atau ajaran moral yang hendak disampaikan Agus Noor selaku pengarang kepada pembacanya adalah sebagai berikut:

    ● Tidak menjadikan ‘jaminan kemiskinan’ sebagai alasan untuk berdiam diri tak berusaha.
    ● Kartu Tanda Miskin bukan sebuah pencapaian melainkan, jadi bukan hal yang bisa dibanggakan apalagi disalahgunakan.
    ● Meskipun seseorang miskin bukan berarti seseorang tidak bisa bahagia. Ini diperlihatkan penulis saat menceritakan anak si orang miskin yang bermain riang meski kelaparan. Atau humor yang terjadi antara orang miskin dan istrinya.

  27. Anonim Said:

    Khusnul Khotimah
    15/XII AKL 1

  28. Anonim Said:

    Jevi Rachmahani XII AKL 1

  29. Mella Rofianica Said:

    MELLA ROFIANICA
    XII BDPM 2 (18)

  30. Nevi Anditasary Said:

    Nevi Anditasary (XII BDPM2)
    Dari cerita tersebut yang dapat diambil adalah.

    1.lebih baik jadi orang miskin yang mengakui dirinya itu miskin ,dari pada orang miskin yang menutupi bahwa dia tidak miskin,akan menjadikan dia semakin miskin karena dia menonjolkan gengsinya terhadap banyak orang…
    2.miskin memang serba kurang,tapi miskin juga bisa hidup bahagia.

  31. Anonim Said:

    ANA NUR LAILI
    ( XII BDPM 2 )
    Dari cerpen ” Perihal Orang Miskin Yang Bahagia” karya Agus Noor diatas, mengandung sebuah amanat yang merupakan ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui sebuah karyanya.Dan amanat yang dapat saya ambil dari cerpen tersebut adalah:
    1. Jangan menjadikan status kemiskinan itu sebagai alasan untuk kita tidak mau berusaha.
    2. Jangan menyalahgunakan layanan “Kartu Tanda Miskin” untuk hal-hal yang tidak baik.
    3. Janganlah kita malu untuk mengakui kemiskinan. Dan jadikan kemiskinan itu sebagai motivator untuk kita berusaha lebih keras lagi agar bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

  32. Anonim Said:

    NAMA : JULI KURNIAWAN PRASONGKO
    KELAS :XII BDPM 2

  33. Nurrisma Said:

    NURRISMA
    XII BDPM 2

  34. Anonim Said:

    PURI LILIS SETYANINGRUM
    No. Absen : 24
    XII BDPM 2

  35. Anonim Said:

    Anggelita Fera Oktafiani
    Absen 03.
    12 bdpm 2

  36. Lintang Laila Said:

    Nama : Lintang Laila Nur Rohmah
    Kelas : XII BDPM 2 (16)

  37. Nama : Septian Magdalena Said:

    Nama : Septian Magdalena
    Kelas : XII BDPM2 /28

  38. Nama : Septian Magdalena Said:

    Nama : Septian Magdalena
    Kelas : XII BDPM2 /28

  39. AIVO ENKITO FATWA Said:

    Nama : Aivo Enkito Fatwa
    Absen : 01
    Kelas : XII BDPM 2

  40. Anonim Said:

    SUNDARI
    XII BDPM 2 ( 31 )

  41. Murfidatul islamiyah Said:

    Murfidatul islamiyah
    XII Bdpm2 / 19

  42. Anonim Said:

    ICHA DWI CAHYANI / XII BDPM 2 / 13

  43. Agung adi pradana Said:

    Saya tertarik membaca lagi dan lagi
    Nama:agung adi pradana
    Kelas:12 tkr 2
    Absen :1

  44. Hasan Rafi Said:

    Hasan Rafi
    16/XII TKRO 2

  45. Rizal Muhklishin(28) XII TKRO 2 Said:

    Miskin dan Kaya bukan suatu nikmat atau penderitaan namun hanya sebatas “Ujian”. Jika kita miskin itu hanya rencana Tuhan, karena Tuhan tahu hanya kita yang bisa menyelesaikan ujian itu dengan berikhtiar dan bertawakal.

  46. M. ARIF SUSILO Said:

    M. ARIF SUSILO(XII TKR 2)
    Absen(20)
    Dari cerita orang miskin di atas dapat memberikan pelajaran hidup yang berharga untuk kita,yaitu:
    1).Berusahalah hidup dengan bahagia
    walaupun miskin/ekonomi yang tidak
    mendukung.
    2).Selalu sabar ketika diberikan ujian hidup
    yang datang bertubi-tubi
    3).Janganlah pantang menyerah walaupun di
    kondisi terpuruk apapun

  47. Wahyu Triana Said:

    WAHYU TRIANA
    (34/BDPM 2)

  48. Anonim Said:

    Sephia Nur Afira – 27 / 12 AKL 1

  49. Anonim Said:

    Puji Giati
    XII BDPM 2

  50. MOHAMAD AFIF AFANDI XII TKRO 2 (22) Said:

    “Jangan malu untuk mengakui miskin dengan berusaha tampak menjadi kaya”. Dari kutipan cerpen tersebut hikmah yang dapat diambil adalah syukuri apa yang kita miliki baik sebesar dan sekecil apapun itu kita harus bersyukur, kebahagian bukan tentang kaya atau miskin tetapi dengan bersyukur atau tidaknya kita terhadap apa yang sudah ada. Jika kaya namun tidak bersyukur apakah bahagia? Belum tentu. Namun jika miskin atau sederhana namun di syukuri dan nikmati pasti akan bahagia. Jadi kutipan cerpen tersebut memberikan kita pelajaran yang sangat berharga dan memotivasi kita untuk terus bersemangat menjalani hidup apapun kondisinya

    • Regina Feby Saveria / XII BDPM 2 / 25 Said:

      Dari cerpen yang berjudul “Perihal Orang Miskin yang Bahagia” yang dikutip oleh Agus Noor memberikan banyak amanat dan pelajaran diantaranya :
      – Jangan jadikan status ” Orang Miskin ” untuk tidak mau berusaha
      – Meskipun menyandang status jadi orang miskin tetapi bisa bahagia dengan keadaannya sekarang
      Selain itu amanat yang terkandung dalam penggalan cerpen tersebut yaitu belajar bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini

  51. Vasha senka Said:

    Bahagia itu tidak perlu mewah ataupun kaya, semua orang bisa bahagia dengan rasa syukur atas semua nikmat yang di beri allah,
    Menurut saya patut untuk ditiru dalam cerpen diatas adalah :
    1.mengakui dirinya bahwa dirinya miskin,( tidak malu dengan keadaan yang sebernarnya)
    2.tetap bersyukur dalam keadaan apapun
    vasha senka
    ( 33 /XIIBDPM2 )

  52. SHERIN SAHARANI Said:

    SHERIN SAHARANI
    XII BDPM 2
    – Jangan jadikan status “orang miskin” sebagai alasan untuk tidak mau berusaha
    – Jangan menyalahgunakan layanan “kartu tanda miskin” untuk hal hal yang tidak benar.
    Dalam cerpen tersebut menceritakan bagaimana kisah keidupan orang miskin di kehidupan sehari-hari. Bagaimana orang miskin itu bersikap. menghadapi masalah, dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya terutama masalah perekonomian. Ditunjukkan saat orang miskin itu berinteraksi dan berhubungan dengan warga kampung dan tokoh ‘aku’

  53. EKA RAHMAWATI Said:

    Miskin harta bukan berarti tidak pernah bahagia. Miskin harta bukan berarti anda hina. Miskin harta bukan berarti anda tidak akan diterima di dunia. Definisi miskin harta bukan hanya menderita. Sebagai manusia harus saling bersyukur miskin harta pun tak apa yang penting tidak miskin iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    Eka Rahmawati/XII BDPM 2

  54. Dian Agustin Mahardika Said:

    Dian Agustin Mahardika
    XII BDPM 2

  55. Dalam cerpen “Perihal Orang Miskin Yang Bahagia” karya Agus Noor. Orang miskin itu selalu bahagia dengan keadaannya,dan orang miskin itu selalu berusaha dan pantang menyerah.

  56. Anonim Said:

    LAILATUL KUSNA/15
    XII BDPM 2


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

<span>%d</span> blogger menyukai ini: